Mengenang Kembali Sosok Djaduk Ferianto Melalui Rumah yang Menjadi Ciri Khas Keunikannya.

Sudah hampir menginjak dua tahun sejak kepulangan salah satu seniman, musisi, sekaligus aktor Indonesia, Gregorius Djaduk Ferianto. Djaduk Ferianto, sebagaimana ia biasa dipanggil, lahir 19 Juli 1964 di Yogyakarta. Beliau merupakan anak dari seniman Bagong Kussudiardja sekaligus adik kandung dari Butet Kertaradjasa. Selepas SMA, Djaduk mengambil jurusan Seni Rupa dan Desain di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Walau menjalani kehidupan perkuliahan di bidang seni murni, namun Djaduk lebih memilih musik yang dipelajarinya secara otodidak menjadi kiprahnya berkarya. Semasa hidupnya, beliau sempat meraih beragam penghargaan musik hingga penghargaan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2000. Ada tiga hal yang melekat pada diri Djaduk sebagai seniman musik, ia pendiri Kua Etnika, Orkes Sinten Ramen dan penggagas acara tahunan Ngayogjazz.

Ia sangat mencintai daerah kelahirannya, Yogyakarta, suatu saat ia pernah diajak untuk tinggal di ibu kota atas tawaran salah satu perusahaan televisi nasional agar kiprahnya makin dikenali. Namun ia tetap memilih menjadi orang desa di Jogja dengan kelompoknya dan terus berkarya. Rumah tinggal Djaduk Ferianto beralamat di Jalan Jogja Ring Road Selatan, Kasihan, Bantul. Rumah beliau memiliki beragam hal unik dan menarik untuk diulas. Menggaet arsitek kondang, Eko Prawoto sebagai kepercayaan untuk menghasilkan tempat tinggal unik nan nyaman bagi keluarganya.

 

Rumah tinggal Djaduk Ferianto beralamat di Jalan Jogja Ring Road Selatan, Kasihan, Bantul

Pada awalnya Djaduk tidak menggunakan konsep mendalam untuk merenovasi rumahnya, akan tetapi ia mempunyai keinginan bahwa nanti rumahnya akan dingin tanpa AC dan terang tanpa lampu. Dalam penataan rumah Djaduk sendiri seakan fengshui yaitu sebuah filosofi China tentang pembangunan rumah yang berkaitan dengan keseimbangan empat unsur kehidupan (tanah, air, api  dan udara). Hal ini terdapat jelas pada penataan area makan rumah yang memiliki banyak unsur terbuka.

Interior rumah didominasi alat-alat musik yang dipajang di hampir semua sisi ruang seperti terompet, gong, diter, biola, suling, bonang dan lain-lainnya. Ada juga terdapat lukisan-lukisan yang menghiasi dinding-dinding rumah serta  poster-poster iklan di bagaian ruang makan. Semua barang-barang unik tersebut Djaduk dapatkan dari koleksinya pribadi dan mengumpulkan dari rumah yang lama berlokasi di Papua. Interior rumahnya terbilang berkesan jadul (jaman dulu) dikarenakan memang semua perabotan yang dipakai merupakan perabotan lama. Serta memang diberi tambahan aksesori jadul dan Jawa klasik pada bagian rumahnya untuk menambah suasana nostalgia dalam rumah.

 

Potret interior rumah tinggal Djaduk Ferianto

Ruang Keluarga

Ruang keluarga di desain gaya klasik jawa yang bisa dilihat dari furnitur dan hiasan-hiasan di area ruang keluarga tersebut, kursi ruang keluarga menggunakan kursi gaya industrialis dan dipadukan dengan meja yang bergaya klasik Jawa. Tak lupa pula dilengkapi dengan beberapa pernak-pernik penghias seperti Lukisan foto Djaduk, tanaman, patung, poster jadul, dan beberapa peralatan gamelan jawa seperti gong, siter, kenong dan bonang.

 

Dapur

Dapur mengusung konsep minimalis dengan tidak banyak peralatan memasak di dalamnya. Dapur dengan sedikit sentuhan konsep Jawa menambah kesan harmonis antara dapur dengan ruangan yang lain. Peralatan dapurnya sendiri bisa dibilang masih menggunakan barang-barang lama nan jadul akan tetapi hal tersebut malah menjadi kekuatan tersendiri dari konsep dapur di rumah ini. Dapat dikatakan dapur dengan gaya minimalis dipadukan bersama perabotan dapur yang klasik menambah suasana tenang dalam Dapur.

 

Area Makan

 

Suasana area makan di rumah

Suasana sejuk terasa dengan banyaknya angin luar masuk dalam area rumah terutama area ruang makan yang dibuat outdoor seperti layaknya teras. Furnitur di area makan mengangkat angkringan sebagai visualisasi, yang  menggambarkan budaya khas Jogja. Satu meja panjang dipadukan dengan kursi yang juga panjang serta pernak-pernik perabotan makan jadul menguatkan rasa Jogja yang identik dengan angkringan.

Terdapat hal unik lain pada area makan ini, yaitu salah satu dinding yang sengaja dicat berwarna merah di bagian depan meja makan. Tak hanya itu, tempelan poster-poster lama di dinding merah itu menambah identik area makan dengan kesan jadul. Poster-poster tersebut pak Djaduk sendiri yang mengumpulkannya dari sebelum beliau mempunyai rumah pribadinya di Jogja dan aksesoris lampu gantung sebagai pelengkap suasananya.

 

Area makan merupakan satu dari sekian ruangan yang mengadopsi fengshui untuk penataannya.

Pada bagian tengah rumah tepatnya di area makan terdapat satu bagian dinding yang di cat berwarna merah. Merah merupakan warna hangat yang melambangkan api serta warna merah menurut psikologi warna juga bisa menambah nafsu makan. Tidak jauh dari area makan itu terdapat kolam ikan koi yang tidak ditutupi atap sehingga saat hujan, air dapat masuk dengan leluasa. Di sekitaran area makan terdapat tanah yang dibiarkan terbuka begitu saja layaknya teras. Area tanah tersebut tidak ditutupi agar air hujan dapat langsung diserap tanah sehingga minim terjadi banjir. Angin luar dapat terus membuat sejuk area makan karena pagar rumah memang sengaja dibuat agak pendek.  Sehingga saat mengunjungi area makan rumah ini, terasa damai sekali dan tentu juga sejuk bila ada semilir angin yang datang menyapa. Area makan merupakan satu dari sekian ruangan yang mengadopsi fengshui untuk penataannya.

 

Teks oleh: Emilda Meidisa / Pressisi angkatan 9/ Desain interior 18

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.