Retrospeksi Generasi 90-an: Melankolia

Sejauh mana seseorang mampu berjuang menerima dan mengikhlaskan, lalu bangkit dari kesedihan atas meninggalnya salah seorang anggota keluarga akibat kecelakaan? Perbedaan cepat-lambat kemampuan seseorang mengikhlaskan dituangkan dalam Generasi 90-an Melankolia, yang diarahkan sekaligus ditulis sendiri skenarionya oleh Mohammad Irfan Ramlyke. Film bergenre drama keluarga yang juga mengandung adaptasi dari buku Generasi 90-an karya Marcella F.P.

Bikin Filem : Selayang Pandang Dunia Film Malaysia

Pernahkah terbayangkan dalam benak, gambaran di balik layar pembuatan film oleh para pelaku, pebisnis, dan pekerjanya di Negeri Jiran sana? Lebih-kurang, bayangan inilah yang digambarkan oleh M. Hilter Zami melalui arahannya dalam Bikin Filem. Saking inginnya menggarap cerita film ini, sampai-sampai ia sendiri merangkap sebagai penulis skenarionya. Bikin Filem merupakan film Malaysia bergenre drama komedi

Menempuh Jalan Pulang Lewat Film Mudik

Apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami-istri berpemikiran ibu kota, bila dipertemukan dengan persoalan keluarga lain dalam perjalanan mudik, padahal keduanya sendiri sedang ‘bermasalah’? Adriyanto Dewo mengarahkan pertanyaan ini dalam medium film berjudul Mudik, dengan menulis sendiri skenarionya. Film produksi LifeLike Pictures ini diperankan oleh Asmara Abigail, Putri Ayudya, Ibnu Jamil, dan Yoga Pratama. Tak

Eksplikasi Atas Kembali Beradaptasi

Wawancara dengan Erwin Prasetya Kurniawan. Mahasiswa Film dan Televisi angkatan 2015. Ketua Sreeening Tugas Akhir (TA) ”Kembali Beradaptasi”, terkait rancu manajemen kursi penonton.        Dalam screening ini, ada beberapa pihak dalam antrean panjang penonton yang tidak kebagian tiket. Apa ada statement yang ingin disampaikan mengenai hal tersebut ?   Salah satu kenapa tiket

Kembali Beradaptasi, Menarik, Tapi …

Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali mengadakan pemutaran film Tugas Akhir (TA) bertajuk Kembali Beradaptasi pada Senin, 30 Desember 2019. Berbeda dari screening TA 2019 lainnya yang biasa menempati ruang Audio Visual (di Dekanat FSMR) Kampus ISI, pemutaran kali ini bertempat di Cinepolis Lippo Plaza Yogyakarta. Kembali Beradaptasi menjadi kali

Kucumbu Tubuh Indahku : Durja Topeng Perempuan Para Lengger Lanang

Setiap manusia menyimpan ingatan masa lalu yang terlukiskan dalam tubuhnya. Mereka hanya bisa mengalah dan menerima atas segala kejadian yang pernah dilalui. Sutradara Garin Nugroho mengangkat pengisahan tentang tubuh manusia tersebut melalui cerita hidup seorang penari lengger lanang dalam film berjudul Kucumbu Tubuh Indahku : Memories of My Body. Film yang menyabet duabelas penghargaan dalam

Dilema dan Konflik Kepentingan-Kebutuhan Kalangan Atas Hingga ‘Ruang-Ruang Bawah Tanah’

Konflik kepentingan dan kebutuhan dari orang-orang kalangan atas menjadi persoalan dilematis nun berkepanjangan bagi masyarakat awam. Orang-orang tersebut senantiasa memilik wewenang berlebih terhadap keputusan dan aturan atas suatu perkara demi kepentingan dan kebutuhan hidup di lingkungan sejawat masing-masing. Tak ayal, sistem kuasa berlebih ini kemudian berdampak (baik langsung maupun tidak langsung) kepada masyarakat awam, dalam

Konflik Ruang Hidup dan Kesalahpahaman dalam Ekosistem Plural Manusia-Alam

Kesalahpahaman dalam hidup bersosial, beraktivitas, maupun berkegiatan dapat dengan mudah menimbulkan beragam akibat. Akibat-akibat tersebut pun secara tidak langsung turut dipengaruhi oleh faktor-faktor komunikasi. Salah satu akibatnya adalah konflik-konflik tak berkesudahan, baik antarmanusia maupun manusia dan alam (termasuk hewan dan tumbuhan). Di antara konflik-konflik tersebut, ada pula sejumlah film dengan persoalan kesalahpahaman yang berbeda-beda, tapi

Screening Praktika Sesi I : Berbicara Lewat Sinema

Menginjak paruh akhir semester enam, mahasiswa Program Studi Film dan Televisi angkatan 2015 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta diwajibkan membuat satu produksi film besar yang nantinya akan diujikan dalam bentuk Screening Praktika. Produksi film tersebut wajib diikuti oleh setiap mahasiswa yang mengambil penjurusan penciptaan seni mata kuliah Produksi Film. Dari mereka, terkumpul sebanyak tujuh judul film

Konflik Sosial dan Perspektif Wanita Paruh Baya

Bambang Sugiharto (seorang Guru Besar Estetika, mengajar di Universitas Parahyangan, ITB, dan UNNES), dalam pengantarnya di buku Krisis dan Paradoks: Film Indonesia karya Garin Nugroho dan Dyna Herlina S. mengemukakan bahwa film merupakan bentuk seni yang paling “menyerupai” gerak kehidupan itu sendiri. Ia hadir bagai sepotong kehidupan yang diambil dan ditayangkan di layar. Terlepas dari