Menjelajahi Habitat Artistik di Nandur Srawung #10

Pameran Nandur Srawung #10 yang merupakan Abstraksi Program NS X Habitat: Loka Carita, berlangsung dari tanggal 15 Agustus – 28 Agustus 2023 di Taman Budaya Yogyakarta ini menarik perhatian masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, bahkan turis mancanegara pun turut menghadiri pameran ini. Bukan hanya sekedar pameran, kegiatan yang diadakan selama berlangsungnya acara ini sangat sayang untuk dilewatkan. Kegiatan yang disuguhkan antara lain; Residensi Seni (Nandur Gawe), Kunjungan ke Situs Residensi, Bursa Seni, Performance Lecture (Nandur Kawruh), Aktivasi Karya Seniman, Lokakarya Bersama Praktisi (Srawung Sinau), NS X Lab – Workshop, Panggung Srawung dan Gallery Tour.

Dimulai dari pintu masuk, di sebelah kanan pameran terdapat stand yang menjual bermacam-macam karya dari brand para seniman.

Bursa Seni

Stand Bursa Seni (21/08/23)

Program ini merupakan wadah yang dipersembahkan khusus bagi para seniman, kreator, dan pengrajin guna memperkenalkan serta menjual ragam karya merchandise yang mereka produksi. Mulai dari kerajinan tangan yang penuh dedikasi, karya seni rupa yang menginspirasi, hingga pilihan baju dan aksesoris yang unik, semuanya dapat ditemukan di Bursa Seni. Tidak semata memiliki tujuan komersial, program ini juga memiliki cita-cita lebih jauh yakni menciptakan ikatan interaktif antara para seniman dengan seniman yang merancang produk kreatif dan juga dengan masyarakat luas. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga sebagai ajang bertukaran inspirasi dan inovasi.

Berikut nama-nama brand yang berpartisipasi dalam Bursa Seni antara lain; Eikonisma, Equipoise, Gambare Tika, Hey You, Kelowi.Co, Kiddibeads, NDKSM, SABBE Living, dan Uwit Art Store.

Gallery Tour

Nandur Srawung X Habitat: Loka Carita

Tema Nandur Srawung X kali ini adalah Habitat: Loka Carita. Habitat adalah lingkungan tempat tinggal atau hidup dari suatu organisme atau populasi organisme tertentu.

Lingkungan ini mencakup semua komponen fisik dan biologis yang memengaruhi kehidupan organisme tersebut, termasuk unsur-unsur seperti tanah, air, udara, tumbuhan, manusia dan hewan lain, dan kondisi fisik lainnya. Perubahan lingkungan yang dialami manusia tidak lepas dari perilaku manusia itu sendiri dalam hubungannya dengan alam maupun perilakunya secara sosial.

Konsep “loka” merujuk pada tempat atau lokasi tertentu dalam kebudayaan atau masyarakat tertentu. Loka dapat merujuk pada tempat suci atau tempat yang dianggap sebagai pusat kekuatan spiritual, atau tempat lain yang secara kultural terkait dengan mitos atau cerita dalam kebudayaan setempat. Carita adalah salah satu bentuk sastra lisan tradisional Indonesia yang berasal dari masyarakat Jawa. Istilah “‘carita” berasal dari bahasa Jawa yang berarti cerita atau kisah. Carita seringkali dibawakan dalam bentuk pembacaan atau pementasan oleh para dalang atau pembaca cerita, dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti cerita rakyat, legenda, mitos, dongeng, atau kisah-kisah sejarah.

Dalam kehidupan masyarakat “carita” memiliki peran penting dalam membentuk identitas, mempengaruhi tindakan, mengarahkan pemikiran, meningkatkan keterikatan, dan secara umum berperan dalam menciptakan budaya.

Sebagai penanda 1 dekade Nandur Srawung, pameran ini dirancang untuk menggambarkan ragam tema karya-karya seniman. Pameran diikuti oleh seniman dari berbagai daerah dan negara, dengan bermacam metode dan pendekatan artistik. Beberapa karya dikerjakan melalui metode riset di lapangan lewat Program Nandur Gawe, yaitu di 5 titik situs di Daerah Istimewa Yogyakarta (Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, Sleman, dan Kodya Yogyakarta) yang berkaitan dengan tema -tema yang terbagi dalam 6 bagian tersebut.

Ruang pameran utama akan dibagi menjadi 6 bagian, yang masing-masing menyajikan hubungan seni dengan tema-tema besar kemanusiaan, yaitu spiritualitas, lingkungan (ekologi), identitas & inklusivitas, aktivisme, teknologi, dan kesadaran sejarah (literasi). Dokumentasi dan keterangan karya dari ke-6 tema, dalam pameran Nandur Srawung X Habitat: Loka Carita adalah sebagai berikut.

1. Art, Identity, and Inclusivity(Seni, Identitas, dan Inklusivitas)

Seni, identitas dan inklusivitas mempunyai peran penting dalam konteks budaya, sosial dan lingkup kedirian. Keragaman identitas termasuk etnis, gender, tradisi ialah jalan untuk menghargai sekaligus merayakan keragaman manusia, juga merangsang dialog yang lebih baik di antara beragam kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda.

Indentitas, Acrilic on Canvas, 7°48’37.3″S 110°20’17.1″E, karya: Begok Oner (2022).

Dalam ruang pamer ini, kluster “Seni, ldentitas dan Inklusivitas” dapat membantu menyajikan perspektif personal melalui medium seni yang dapat membuka mata audiens terhadap pengalaman-pengalaman yang tidak mereka alami sendiri, serta membantu membangun empati yang lebih dalam terhadap berbagai pengalaman identitas manusia yang mungkin terabaikan agar dapat diberikan ruang untuk didengar dan diapresiasi secara luas dan terbuka. Dengan menghadirkan keragaman karya seni dalam kluster ini dapat menjadi titik awal untuk memulai percakapan yang lebih luas tentang isu-isu identitas dan inklusivitas di masyarakat sekaligus memberikan pengakuan kepada pengalaman dan identitas yang sebelumnya diabaikan untuk nantinya (setidaknya) mampu menggerakkan perubahan sosial yang lebih baik.

Melalui Habitat: Loka Carita kekaryaan dengan identitas manusia dapat membantu mengubah persepsi negatif menjadi pandangan yang positif serta menghargai keunikan setiap individu. Seni, ldentitas, dan Inklusivitas merupakan horizon pemahaman yang luas dan tentunya akan terus berkembang dalam lingkup seni dan budaya. Saat karya seni yang dinarasikan oleh seniman mampu memberi ruang terbuka terhadap pandangan masyarakat maka karya seni dapat berkontribusi untuk memperkuat ikatan sosial yang mendalam.

2. Art and Literacy (Seni dan Literasi)

Literasi, Mixed Media, Illuminations of Google.com, Karya: Eddy Susanto (2014).

Kuratorial seni dan literasi dalam konteks cerita lokal adalah perpaduan yang membangun jembatan antara masa lampau dan masa sekarang, menghargai kekayaan budaya serta identitas suatu wilayah. Fokus utama kuratorial ini terletak pada cerita lokal, membuka peluang bagi kisah-kisah tersembunyi untuk muncul, merayakan keanekaragaman budaya, dan memfasilitasi dialog melintasi ruang dan waktu. Cerita lokal berperan sebagai harta tak ternilai, mencerminkan keunikannya dalam sebuah masyarakat. Karya seni menjadi medium untuk merangkai kisah sejarah, tradisi, dan gagasan komunitas. Kuratorial seni dan literasi dalam tema cerita lokal juga membuka seniman untuk berbagi kisah pribadi yang bernilai sejarah dan budaya. Karya-karya memberikan pandangan lebih dalam tentang dunia.

Selain sebagai jendela ke masa lalu, segmen seni dan literasi dalam konteks cerita lokal juga menjadi jalan untuk merespons isu-isu kontemporer. Bagaimana cerita lokal berdialog dengan perubahan sosial, lingkungan, dan teknologi. Secara keseluruhan, kuratorial seni dan literasi dalam tema cerita lokal, membentuk perjalanan lintas dimensi, menghubungkan masa lalu dan masa kini, serta menghidupkan dan menghargai keberagaman warisan budaya dan identitas lokal. Melalui seni dan literasi, kisah-kisah tersembunyi diimajinasikan, dirayakan, dan diletakkan sebagai warisan budaya yang tak ternilai. Setiap karya seni menjadi bagian integral dari usaha mengukir jejak abadi, menginspirasi, dan memberikan makna dalam perjalanan panjang manusia dalam memaknai kehidupan serta menjaga akar budaya mereka.

3.  Art and Activism (Seni dan Aktivisme)

Aktivisme, Giclee, Pada Hari-hari Mendatang, Karya: Alit Ambara (2022-2023)

Seni dan masyarakat menyatu dalam sebuah ikatan yang kuat, membentuk keselarasan yang kokoh dalam upaya membentuk perubahan Sosial di tengah realitas masyarakat. Melalul praktik seni yang menggandeng kolaborasi atau partisipasi masyarakat, kluster ini menjadi manifestasi konkret dari gerakan sosial yang tanggap terhadap dinamika sosial serta kondisi aktual yang dihadapi. Di dalamnya, karya-karya ini menggali berbagai isu sosial-politik, hak asasi manusia, dampak kekerasan negara, dan tantangan intoleransi terhadap keragaman di dalam masyarakat.

Karya-karya ini bertujuan untuk mengangkat isu-isu perubahan yang berkaitan dengan masyarakat, pemerintahan, serta konteks sosial dan politik. Seni di sini menjelma sebuah wadah yang memungkinkan penyampaian pesan-pesan yang meresap hingga ke dalam jiwa, diterjemahkan melalui beragam metode dan perwujudan karya yang beragam. Dalam bentuk poster, pesan dapat dengan mudah diakses oleh publik, diperbanyak, dan disebarkan secara luas. Karya seni partisipatoris mengundang partisipasi langsung masyarakat, mengembangkan metode kerja yang merangkul kolaborasi dalam membangun gerakan sosial. Tidak ketinggalan, karya-karya yang bersifat aktif dan hadir secara langsung di tengah masyarakat, menciptakan, serta mengkomunikasikan karya sebagai perpanjangan semangat perubahan.

Kluster ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana seniman dan karyanya menjadi elemen integral dalam perubahan dan turut berkontribusi secara aktif dalam kehidupan sosial. Melalui dialog kreatif ini, diharapkan dapat merangsang pemirsa untuk merefleksikan peran serta dampak seni dalam membentuk dan tindakan isu-isu penting dalam masyarakat.

4. Art and Spirituality (Seni dan Spiritualitas)

Spiritual, Mixed Media, Nawaitu de’ Pangiran, Karya: Moh. Kholilur Rahman (2023)

Keterkaitan antara seni dan spiritualitas telah lama menjadi pembahasan seturut perjalanan sejarah umat manusia. Interaksi di dalamnya saling mempengaruhi dalam berbagai cara. Seperti halnya karya seni sebagai bahasa ungkap dalam dimensi spiritual untuk menggambarkan keterkaitan dengan sang pencipta atau merenungkan makna kehidupan. Seni dan spiritualitas dapat memberikan peran dalam pencarian makna hidup serta membantu individu untuk menjalani refleksi mendalam tentang eksistensi alam semesta serta keberadaan sang liyan.

Dalam ruang pamer Ini, kluster “Seni dan Spiritualitas” karya seni yang diwujudkan ialah pengalaman transendental seniman, yaitu keluar dari keterikatan dunia fisik untuk merenungkan hal-hal yang lebih besar daripada diri mereka sendiri. Spiritualitas memungkinkan individu untuk menerjemahkan emosi dan pikiran, mewujudkan rasa kedamaian sekaligus penghayatan terhadap pengalaman hidup. Melalui wujud seni juga menjadi meditasi visual dalam penghayatan untuk membantu Individu terhubung dengan dunia batin dan merasakan sisi emosional dengan pengalaman spiritualnya masing-masing.

Seni dan spiritualitas memiliki banyak persamaan dan pendekatan saling terkait. Melalui pameran ini karya yang ditampilkan ialah sebagai pengingat sekaligus penghubung tentang pengalaman personal serta membantu merayakan keindahan hidup. Makna seni dan spiritualitas memberikan cara pandang untuk menghayati keberadaan umat manusia di dunia ini dengan cara yang mendalam dan bermakna. Keterkaitan antara seni dan spiritualitas nantinya akan terus berkembang seturut habitat budaya, agama dan individu manusia.

5. Art and Ecology (Seni dan Ekologi)

Ekologi, Tegak Wood, Menuju Satu, Karya: R. M. Gandhi (2023)

Seni diharapkan dapat diartikan sebagai gerakan sosial yang melampaui batas-batas seni terapan. Tujuannya adalah menjadikan seni sebagai medium imajinatif yang mampu membawa kesadaran publik terhadap keberlanjutan lingkungan. Konsep seni ekologi tak hanya sebagai bentuk visual semata, tetapi lebih merupakan sebuah metodologi yang memberikan ruang untuk diskusi kritis yang kontekstual.

Penting untuk membahas isu-isu ekologi yang sedang dihadapi saat ini, termasuk isu terkait pertambangan, perkebunan, dan perampasan lahan. Seni ekologis mempunyai peran penting dalam memvisualisasikan dampak-dampak lingkungan dari semua aktivitas tersebut. Seni ekologis adalah respons kreatif terhadap krisis lingkungan global. Kombinasi seni dan pesan lingkungan dapat membangkitkan diskusi yang kuat tentang dampak tindakan manusia terhadap lingkungan. Kluster ini didesain dengan tujuan pemicu refleksi dan memberikan pandangan konstruktif terkait keberlanjutan kehidupan manusia dan alam. Melalui karya seni yang dipamerkan, bertujuan untuk mendorong berpikir lebih dalam dan merespon dengan tindakan positif ‘laku’ kreatif.

Seni dan ekologi dalam pameran ini diharapkan dapat merangsang perubahan dalam pandangan serta sikap terhadap isu lingkungan. Dengan menggabungkan estetika seni dan pesan yang kuat, karya – karya ini berusaha untuk menginspirasi perubahan dan tindakan nyata demi masa depan yang berkelanjutan.

6. Art and Technology (Seni dan Teknologi)

Teknologi, Mixed Media, Grumbul Pangkalan Dimar, Karya: Prewangan (2023)

Manusia dan teknologi dalam sepanjang peradaban manusia memiliki hubungan yang sangat erat dan kompleks. Teknologi telah menjadi bagian integral kehidupan manusia modern dan pengaruhnya dapat dirasakan di hampir setiap aspek kehidupan. Sedangkan seni sebagai manifestasi budaya dan identitas, seni telah memainkan peran penting dalam peradaban manusia. Kedua hal tersebut telah berkelindan dalam sejarah hidup manusia.

Teknologi dapat dilihat sebagai hasil dari interaksi kompleks antara masyarakat dan faktor-faktor sosial lainnya. Kerangka teoritis ini menekankan bagaimana nilai-nilai, kepentingan, dan tuntutan masyarakat mempengaruhi pengembangan dan penerapan teknologi. Artinya, teknologi tidak hanya terbentuk oleh faktor teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Kreativitas dan keterlibatan masyarakat memainkan peran penting dalam proses inovasi dan penggunaan teknologi serta pengetahuan Ilmiah. Seni memiliki peran yang signifikan dalam memfasilitasi proses Inovasi dan konversi pengetahuan menjadi produk, layanan, dan proses baru yang lebih inovatif.

Menurut pandangan Bruno Latour dalam teori aktor-jaringan (actor-network Theory/ANT) seni dan teknologi sebagai entitas yang “hibrida” atau tercampur. Entitas ini seringkali saling terkait dan menyatu dalam cara-cara yang kompleks. Seni dan teknologi adalah sebuah ontologis yang kompleks dan mendalam tentang bagaimana keduanya saling terkait dan berperan dalam membentuk realitas sosial dan budaya.

Karya-karya yang berhubungan dengan seni dan teknologi pada yang bertajuk Habitat Loka Carita ini adalan karya yang selain memiliki estetika juga berfungsi sebagai elemen dalam mempercepat konversi pengetahuan ilmu dan teknologi dengan cara yang lebih inklusif dan halistik. Dapat dikatakan pula bahwa karya-karya ini adalah sebuah gagasan kritis di mana melihat kembali bahwa hubungan antara manusia dan teknologi tidaklah statis dan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Kita perlu terus mengkritik dan merenungkan dampak teknologi dalam kehidupan kita serta mengarahkan penggunaan teknologi untuk mencapai tujuan yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi manusia secara keseluruhan.

Semua kluster pada pameran Nandur Srawung mengajak pengunjung menelaah bagaimana manusia selalu eksis bersama dengan lingkungan yang ditempatinya. Oleh karena itu juga, penting bagi kita sebagai makhluk yang hidup di lingkungan tersebut untuk bersinergi dengan segala hal yang ada di sekitarnya. Bagaimana manusia bersinergi dengan keragaman identitas,  bagaimana manusia bersinergi dengan tulisan yang menjadi penghubung masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, bagaimana manusia juga bersinergi dengan dinamika sosial, bagaimana manusia mendeskripsikan keterikatan raganya dengan sang pencipta, bagaimana manusia juga harus menyadari keberlanjutan lingkungan, dan bagaimana manusia tetap bersinergi dengan teknologi seiring perkembagan zaman. Hal-hal tersebut dideskripsikan dengan apik melalui karya-karya para seniman di pameran Nandur Srawung #10.

Teks Oleh: Syifa Mufida dan Rahmi Listiana Eliza / PRESSISI 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.